Pandai-pandainya kita menangkap amanah dari Allah

Bak bola yang di lempar, siapa dia yang menangkap maka dia akan menjadi orang pilihan untuk menerima amanah besar dari Allah. Tentunya bukan sembarang orang yang menerima amanah ini, mereka tentunya orang orang yang sadar akan kehendak Allah dalam dirinya sehingga sewaktu waktu bola itu mendekatnya langsung ia sahut. Menerima amanah biasa atau menerima amanah besar, tergantung dari kesadaran kita terhadap apa apa yang akan Allah lempar ke kita. Karena ada yang tidak sadar juga, atau memang tidak mau sadar dengan Allah maka bola sebenarnya sudah ada di dekatnya tapi dia diamkan tidak di sahutnya, maka di lemparkannya lagi ke lain orang. Dan hanya orang yang berani berubah, berani menerima tantangan amanah dari Allah dan berani untk out of the box keluar dari zona nyaman itulah yang akan merubah dirinya dan memberikan sebab berubahnya lingkungan sekitar.

Kalau kita tidak pandai menerima amanah maka kita juga tidak akan diangkat derajat kita dan sampai mati hanya itu itu saja yang raih dalam hidup. Jaman Rasul jaman perang, perang adalah menerima amanah Allah untuk berperang bukan nafsu menguasai atau membunuh, sama dengan jaman tahun 45 adalah jaman dilemparnya bola maka siapa yang maju berani untuk berperang maka dia akan diangkat derajat oleh Allah sebagai mati syahid. Sekarang jaman apa ? sehingga bola itu dilempar. Sekarang adalah jaman dimana kita berani tidak mendakwahkan kalimat tauhid. Tidak lagi memanggul senjata tapi keberanian kita akan sama dengan mereka yang berperang pada jaman nabi dan tahun 45 di indonesia. Yang diperlukan adalah mental pemberani. Orang maksiat berani di media on line , kenapa orang baik takut ? takut dikatakan baik..haaaaa… kalau takut dikatakan baik berarti anda ini apa ? .

Perangnya kita tidak sekedar perang, tidak asal bawa senjata terus dar dor dar dor… sekenanya, tidak kita berperang dengan pena dengan andrid kita dan dengan laptop yang kita miliki dan ….. paket data ha ha …  dengan perlengkapan itu kita siap maju ke kancah peperangan. Cara sudah kita pelajari di dzikir nafas terutama dzikir nafas level 4, dzikir nafas level 4 ini ibarat kita sudah menjalani pelatihan perang tingkat akhir. Maka selanjutnya kita berperang dengan dzikir nafas level 4. Siapa musuh kita? musuh kita adalah siapapun apapun yang menghalangi dari amanah yang kita emban. musuh itu bisa kita sendiri bisa orang lain bisa keadaan atau lainnya. Kita sendiri kok bisa menjadi musuh iya, diri yaitu ego kita, ego ini musuh yang selalu menghalang dalam menjalankan amanah, caranya menghadapinya dengan mengenolkanya. Ego inilah sumber ketakutan, sumber was was.

 

Author: Setiyo Purwanto

Trainer dan Peneliti psikologi islam Dosen Fakultas Psikologi UMS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.