Antara saya, Rasulullah SAW dan Allah SWT

Islam adalah agama yang jelas, tidak meragukan dan pasti.  Antara saya Rasulullah dan Allah juga harus jelas. Rasulullah bukanlah saya, dan saya bukanlah Allah, demikian juga Rasulullah juga bukan Allah. Kedudukan saya Rasulullah dan Allah berbeda. Allah adalah pencipta saya, Tuhan saya, sedangkan Rasulullah adalah utusan Allah (utusan adalah orang terpilih untuk menyampaikan pesan), dan saya adalah hamba dari Allah SWT dan umat atau pengikut Rasulullah. Anda pasti mbatin, ngapain juga pak pur mbahas seperti ini kan sudah jelas. ya ini sangat jelas, dan jangan sampai kabur atau ambigu lagi. Misalnya saya adalah Allah, nah ini di manunggaling kawulogusti atau wihdatul wujud nah ini bikin sesat dan menjadi tidak jelas, terserah dengan alasan appaun pasti salah. Kemudian rasulullah juga Allah… nah ini kesesatan nyata lagi menganggap rasulullah juga Allah. kemudian kesesatan lagi adalah bahwa saya adalah rasulullah, weleh weleh…. , semua ada batasnya dengan jelas dan kedudukannya masing masing. semua harus berada pada posisinya masing masing sehingga kita bisa beribadah dengan benar.

Rasulullah adalah utusan Allah yang di utus untuk menyampaikan kepada hambanya bahwa hamba tersebut harus menghadap kepada Allah secara langsung. Ini adalah  sangat jelas, terus kenapa kita masih pakai hijab hijab berupa perantara yang katanya bahwa menghadap Allah itu seperti menghadap presiden yang ada birokrasinya…. weleh weleh …. Allah kok di samakan dengan presiden. jelas faham ini adalah faham sesat, karena menjadikan mahluk sebagai perantara dan perantara dan menjadi hijab. Hijab pastinya tidak akan mempertemukan hamba dengan Tuhannya selamanya sampai mati juga tidak akan bertemu dengan Tuhanya karena adanya hijab.

Kalau saya langsung ke Allah atau terus bertemu dengan Allah maka saya menjalankan apa yang diajarkan Rasulullah. kalau saya menjadikan Rasulullah sebagai perantara saya, atau kyai atau habib, atau mursyid sebagai perantara saya maka berarti saya mengingkari ajaran Rasulullah. Karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan “jika kamu mau bertemu Allah maka harus melewati, kyai kyai, habib habib, atau mursyid mursid” tidak pernah ada ajaran rasulullah seperti itu, dan barang siapa yang menjalankan nya berarti dia telah keluar dari ajaran Rasulullah. Sepertinya atau seolah dengan kita melalui mursyid mursyid baru bisa ke Allah seolah menghormati rasulullah, sama sekali tidak , bahkan itu melecehkan Rasulullah karena ajarannya tidak diamalkan.

Sholatku kehendak Allah, bukan kehendakku

shalatku adalah kehendak Allah bukan kehendakku, mungkin anda mengira saya sudah mulai seperti syeh siti jenar… ketika adzan berkumandang ketika itu saya sedang enak enaknya nonton preman pensiun 2… kalau shalat ini adalah kehendak ku pasti saya tidak akan shalat subuh, tapi karena kehendak Allah maka saya menjalankan shalat subuh. berarti shalat saya adalah kehendak allah bukan kehendak ku.

Kehendak Allah dalam shalat saya tidak hanya di awal saja tapi dari awal sampai akhir. gerak takbirku adalah gerak takbir yang dikehendaki Allah yang artinya adalah gerak Allah, dan bacaan al fatihah ku adalah kehendak allah yang artinya adalah gerak fatihah dari Allah. Gerak Allah dalam shalat saya ini sangat nyata dan sangat riil. saya tidak lagi bisa berbuat apapun laa haula walaa quwata ila billah… menggerakkan takbir tidak mampu, membaca tidak mam[u, bersujud tidak mampu… kekuatan itu datang dari Allah. Bahagia rasanya saya digerakkan Allah dalam shalat subuh. tanganku diangkat Allah mulut di gerakkan Allah untuk mengucapkan kalimat takbir.. allahu akbar.

sampai salam saya masih terduduk diam menjalankan DN sambil menundukkan dan memasrahkan semuanya… kemudian Beliau mengajarkan beberapa hal sebagai bekal saya hari ini dan selamanya.

Terimakasih ya Allah engkau golongkan dan Engkau gerakkan saya untuk shalat dan berdzikir.. cover buku shalat

ber DN berproses menuju ke Allah

ber Dzikir Nafas (DN) adalah proses, ketika kita ber DN maka kita berproses terus menerus untuk menuju kepada Allah. terutama proses untuk menghilangkan EGO sehingga kesadaran mampu memahami yang benar benar Allah. Proses ini berarti kita harus berjalan dan bergerak menuju kepada Allah. Tidak ada istilah sudah sampai atau berhenti. Kalau kita berhenti atau mengatakan sudah sampai berarti kita sudah tidak  ke Allah lagi, hanya sampai disitu saja perjalanan kita. Padahal kita ingin lebih dekat dan lebih dekat kepada Allah. Dekat ini terus mendekat dan terus mendekat. Bahasa al quran pun menyebutkan bahwa Allah itu dekat bahkan sangat dekat. Ada kata dekat itu berarti bahwa kita selalu ada jarak dengan Allah makanya kita harus selalu mendekat.

Islam tidak mengenal istilah bersatu dengan Allah, manunggaling kawula gusti atau unity atau istilah lainnya. maka kita dalam ber DN tidak boleh berhenti pada merasa “bersatu”. Kalau itu sampai ada maka segera lanjutkan perjalanan kita. Karena perasaan bersatu atau keadaan bersatu itu dapat menjadi hijab antara kita dengan Allah, artinya kita tidak akan dapat melanjutkan perjalanan kita kembali. Kalau kita belajar ber DN maka setiap saat kita harus berproses mendekat kepada Allah. selalu mendekat dan selalu mendekat.

mendekat pun sendiri sendiri tidak ada mendekat kepada Allah secara berjamaah. karena urusan mendekat kepada Allah ini adalah urusan pribadi kita dengan Allah. Kita pun juga tidak bisa meminta tolong kepada siapapun dalam hal ini, Entah itu minta tolong kepada guru mursyid, minta tolong kepada malaikat malaikat atau kepada nabi nabi. dalam hal ini kita harus lurus ke Allah tidak ada istilah “selain Allah” semuanya harus Allah. Semua yang bukan Allah dalam hal ini harus kita kesampingkan. saya harus tegas dalam hal ini karena banyak yang ke akhirnya tidak ke Allah. Banyak yang ke Allah tapi minta tolongnya tidak ke Allah. Padahal kita tahu bahwa Allah ini tidak mau diduakan. Sekarang bagaimana kita akan bisa mendekat ke Allah kalau kita menduakan Allah. Seperti misalnya begini, saya jual tanah .. sudah saya tulis besar besar bahwa tanah ini saya jual tanpa perantara… kemudian anda akan beli tanah itu tapi menggunakan perantara .. jelas saya tolak. kendapa pakai perantara langsung dengan saya saja bisa. sama saja dengan Allah kenapa kita pakai perantara guru mursyid atau yang lainnya kalau langsung ke Allah saja bisa. kalau anda takut dengan cara saya ini, coba evaluasi keimanan anda. Percaya Allah atau percaya guru mursyid, atau yang lainnya?

baik dalam Ber DN kita harus berproses sampai mati, berproses menuju ke Allah sampai nanti nafas terakhir kita. Selama masih ada nafas maka selama itu pula kita harus ber DN.

selamat berjuang berproses menuju kepada Allah. Laa ilaha ilallah. hilangkan yang lain … hanya Allah yang bisa menolong kita.